BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Kelainan bawaan (kelainan
kongenintal) adalah suatu kelainan pada ketidaksempurnaan pada penyambungan
bibir bagian atas yang biasanya berlokasi tepat dibawah hidung.
Labioskizis dan labiopalatoskizis adalah anomali perkembangan
pada 1 dari 1.000 kelahiran. Kelainan bawaan ini berkaitan dengan riwayat
keluarga, infeksi virus pada ibu hamil trimester I. jika tidak diobati akan
terjadin kesulitan dalam berbicara pada anak.
Ada beberapa kelainan bawaan diantaranya adalah labioskizis,
labiopalatoskizis, atresia esofagus, atersia rekti dan ani, obstruksi biliaris,
omfalokel, hernia diafragmatika, atresia duodeni, meningokel, ensefalokel,
hidrosefalus, fimosis, dan hipospadia. Salah satu kelainan bawaan yang akan di
jelaskan lebih jauh disini adalah labioskizis dan labiopalatoskizis.
Labioskizis dan Labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut
berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa
embrional berkembang, bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. Belahnya
belahan dapat sangat bervariasi, mengenai salah satu bagian atau semua bagian
dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan palatum durum serta molle. Suatu
klasifikasi berguna membagi struktur-struktur yang terkena menjadi Palatum
primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus dan palatum durum dibelahan
foramenincisivumPalatum sekunder meliputi palatum durum dan molle posterior
terhadap foramen. Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya,
palatum primer dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau bilateral. Kadang-kadang
terlihat suatu belahan submukosa, dalam kasus ini mukosanya utuh dengan belahan
mengenai tulang dan jaringan otot palatum.
Labioskiziz atau yang lebih dikenal dengan sebutan
bibir sumbing, merupakan masalah yang di alamai oleh sebagian kecil masyarakat.
Setiap tahun, diperkirakan 700-10.000 bayi lahir dengan keadaan bibir sumbing..
Merupakan
deformitas ( kelainan ) daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan
yang kurang sempurna semasa embrional berkembang, bibir atas bagian kanan dan
bagian kiri tidak tumbuh bersatu.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah
ini adalah:
·
Untuk memahami tentang labioskizis atau labiopalatoskizis.
·
Untuk mengetahui apa penyebab dari
labioskizis atau labiopalatokizis
·
Untuk mengetahui bagaimana cara
mengatasi masalah labioskizis atau
labiopalatoskizis
C.
Rumusan Masalah
·
Apa yang dimaksud dengan labioskizis
atau labiopalatoskizis ?
·
Apa penyebab dari labioskizis atau labiopalatoskizis ?
·
Bagaimana cara mengatasi labioskizis
atau labiopalatoskizis ?
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A.
Definisi
Labioskizis
adalah kelainan congenital sumbing yang terjadi akibat kegagalan fusi atau
penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis medial yang dilikuti disrupsi
kedua bibir, rahang dan palatum anterior. Sedangkan Palatoskizis adalah
kelainan congenital sumbing akibat kegagalan fusi palatum pada garis tengah dan
kegagalan fusi dengan septum nasi. ( Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak
Balita, 2010)
Labioskizis atau cleft lip atau bibir sumbing
adalah suatu kondisi dimana terdapatnya celah pada bibir atas diantara mulut
dan hidung. Kelainan ini dapat berupa takik kecil pada bahagian bibir yang
berwarna sampai pada pemisahan komplit satu
atau dua sisi bibir memanjang dari bibir ke hidung.
Palatoskisis adalah fissura garis tengah pada palatum yang terjadi
karenakegagalan 2 sisi untuk menyatu karena perkembangan embriotik.
Labioskizis
dan labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau
sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di
mana biir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu.
Labioskizis
dan labiopalatoskizis adalah anomali perkembangan pada 1 dari 1000 kelahiran.
Kelainan bawaan ini berkaitan dengan riwayat keluarga, infeksi virus pada ibu
hamil trimester pertama.
Labioskizis/labiopalatoskizis
yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan serta samping muka serta
langit-langit mulut) tidak menutup dengan sempurna.
B.
Klasifikasi
Jenis
belahan pada labioskizis dan labiopalatoskizis dapat sangat bervariasi, bisa
mengenal salah satu bagain atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir,
alveolus dan palatum durum, serta palatum mlle. Suatu klasifikasi membagi
struktur-struktur yang terkena menjadi beberapa bagian berikut :
1.
Palatum primer meliputi bibir, dasar
hidung, alveolus, dan palatum durum di belahan foramen insisivum.
2.
Palatum sekunder meliputi palatum
durum dan palatum molle posterior terhadap foramen.
3.
Suatu belahan dapat mengenai salah
satu atau keduanya, palatum primer dan palatum sekunder dan juga bisa berupa
unilateral atau bilateral.
4.
Terkadang terlihat suatu belahan
submukosa. Dalam kasus ini mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan
jaringan otot palatum.
Klasifikasi dari kelainan ini
diantaranya berdasarkan akan dua hal yaitu :
1.
Klasifikasi berdasarkan organ yang terlibat
v
Celah di bibir
( labioskizis )
v
Celah di gusi ( gnatoskizis )
v
Celah di langit
( palatoskizis )
v Celah dapat
terjadi lebih dari satu organ misalnya terjadi di bibir dan langit langit ( labiopalatoskizis)
2.
Berdasarkan
lengkap/tidaknya celah terbentuk
Tingkat
kelainan bibir sumbing
bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat.
Beberapa jenis
bibir sumbing yang diketahui adalah :
v
Unilateral Incomplete yaitu jika
celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan memanjang hingga ke
hidung.
v
Unilateral Complete yaitu jika celah
sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi sisi bibir dan memanjang hingga ke
hidung.
v
Bilateral Complete yaitu Jika celah
sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memnajang hingga ke hidung.
C.
Etiologi
Umumnya
kelainan kongenital ini berdiri sendiri dan penyebabnya tidak diketahui dengan
jelas. Selain itu dikenal dengan beberapa syndrom atau malformasi yang disertai
adanya sumbing bibir, sumbing palatum atau keduanya yang disebut kelompok
syndrom clefts dan kelompok sumbing yang berdiri sendiri non syndromik clefts.
Beberapa
cindromik clefts adalah sumbing yang terjadi pada kelainan kromosom ( trysomit
13, 18, atau 21 ) mutasi genetik atau kejadian sumbing yang berhubungan dengan
akobat toksisitas selama kehamilan ( kecanduan alkohol ), terapi fenitoin,
infeksi rubella, sumbing yang ditemukan pada syndrom pierrerobin, penyebab non
sindromik clefts dafat bersifat multifaktorial seperti masalah genetik dan
pengaruh lingkungan.
Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing. faktor tersebut antara
lain , yaitu :
1.
Faktor
Genetik atau keturunan Dimana material genetic dalam kromosom yang
mempengaruhi/. Dimana dapat terjadi karena adanya mutasi gen ataupun kelainan
kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari
22 pasang kromosom non-sex (kromosom 1 s/d 22 ) dan 1 pasang kromosom sex (
kromosom X dan Y ) yang menentukan jenis kelamin. Pada penderita bibir sumbing
terjadi Trisomi 13 atau Sindroma Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada
setiap sel penderita, sehingga jumlah total kromosom pada tiap selnya
adalah 47. Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan
menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak, jantung, dan ginjal. Namun
kelainan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang
lahir.
2.
Kurang
Nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu hamil,
kekuranganasam folat.
3.
Radiasi
4.
Terjadi
trauma pada kehamilan trimester pertama.
5. Infeksi
pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi rubella dan sifilis, toxoplasmosis dan klamidia.
6. Pengaruh
obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas
selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol, terapi penitonin.
7.
Multifaktoral
dan mutasi genetic.
8.
Diplasia
ektodermal
9. Syndrome
atau malformasi yang disertai adanya sumbing bibir, sumbing palatum atau
keduanya disebut kelompok syndrome cleft dan kelompok sumbing yang berdiri
sendiri non syndromik clefts.
10. Beberapa
syndromik cleft adalah sumbing yang terjadi pada kelainan kromosom (trysomit
13, 18 atau 21) mutasi genetik atau kejadian sumbing yang berhubungan dengan
akibat toksikosis selama kehamilan (kecanduan alkohol, terapi fenitoin, infeksi
rubella, sumbing yang ditemukan pada syndrome peirrerobin.
D.
Faktor
Resiko
Angka kejadian kelalaian kongenital sekitar 1/700
kelahiran dan merupakan salah satu kelainan kongenital yang sering ditemukan, kelainan ini berwujud sebagai labioskizis disertai
palatoskizis 50%, labioskizis saja 25% dan palatoskizis saja 25%. Pada 20% dari
kelompok ini ditemukan adanya riwayat kelainan sumbing dalam keturunan.
Kejadian ini mungkin disebabkan adanya faktor toksik dan lingkungan yang
mempengaruhi gen pada periode fesi ke-2 belahan tersebut; pengaruh toksik
terhadap fusi yang telah terjadi tidak akan memisahkan lagi belahan tersebut.
Resiko Kejadian Sumbing
pada Keluarga
Non-syndromic Clefts
Resiko sumbing pada
anak berikutnya
|
Resiko labioskizis
dengan atau tanpa palatokoskizis (%)
|
Resiko palatoskizis
|
Bila ditemukan satu
anak menderita sumbing
|
-
|
-
|
Suami istri dalam
keturunan tidak ada yang sumbing
|
2-3
|
2
|
Dalam keturunan ada
yang sumbing
|
4-9
|
3-7
|
Bila di temukan dua
anak yang menderita sumbing
|
14
|
13
|
Salah satu orang
tuanya menderita sumbing
|
12
|
13
|
Kedua orang tuanya
menderita sumbing
|
30
|
20
|
E. Patofisiologi
Cacat terbentuk pada
trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm, pada
daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (proses nasalis dan maksilaris)
pecah kembali. Labioskizis terjadi akibat fusi atau penyatuan prominen
maksilaris dengan prominen nasalis medial yang diikuti disfusi kedua bibir,
rahang, dan palatum pada garis tengah dan kegagalan fusi septum nasi. Gangguan
fusi palatum durum serta palatum mole terjadi sekitar kehamilanke-7 sampai 12
minggu.
F. Tanda dan Gejala
Ada beberapa
gejala dari bibir sumbing yaitu :
1.
Terjadi pemisahan langit-langut
2.
Terjadi pemisahan bibir
3.
Terjadi pemisahan bibir dan
langit-langit
4.
Infeksi telinga berulang, berat
badan tidak bertambah
5.
Pada bayi tidak terjadi regurgitas
nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan
fisik daerah wajah. Labioskizis dapat terjadi dalam beberapa derajat malforasi,
mulai dari takik ringan pada tepi bibir dikanan/kiri garis tengah, hingga
sumbing lengkap menjalar sampai ke hidung. Terdapat variasi lanjutan yang
melibatkan sumbing palatum.
Labipalatoskizis merupakan
deformitas yang dibedakan menjadi 4 tingkatan/ derajat yaitu derajat 1 (sumbing
palatum mole) derajat 2 (sumbing palatum durum dan mole), derajat 3 (derajat
unilateral total) dan derajat 4 (sumbing bilateral total). Bayi yang mengalami
labiopalatoskizis sering mengalami gangguan makan dan bicara. Regurgitasi
makanan dapat menimbulkan masalah pernafasan, iritasi paru dan infeksi
pernafasan kronis. Pembedahan umum sebelum anak mulai berbicara, pembedahan
ulang pada usia 15 bulan.
Sumbing bibir (labioskizis) tidak
banyak gangguan dan bayi masih bisa minum dengan dot. Sumbing palatum
(palatoskizis) sering menumbulkan bayi sukar minum, bahaya tersedak yang dapat
menyebabkan terjadinya aspirasi, infeksi pernafasan dan gangguan pertumbuhan.
G. Komplikasi
Keadaan
kelainan pada wajah seperti bibir sumbing ada beberapa komplikasi, yaitu :
1.
Kesulitan makan, dialami pada
penderita bibir sumbing dan jika diikuti dengan celah palatum. Memerlukan
penanganan khusus seperti dot khusus, posisi makan yang benar dan juga
kesabaran dalam memberi makan pada bayi bibir sumbing. Merupakan masalah
pertama yang terjadi pada bayi penderita labioskizisdan labiopalatoskizis.
Adanya labioskizis dan labiopalatoskizis memberikan kesulitan pada bayi untuk
melakukan hisapan pada payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan
labioskizis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral.
Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan
pada bayi dengan labioskizis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap
lebih banyak udara pada saat menyusu. Memegang bayi dengan posisi
tegak urus mungkin dapat membantu proses menyusu bayi.
Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala juga dapat membantu. Bayi yang
hanya menderita labioskizis atau dengan labiopalatoskizis biasanya dapat
menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan
penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan
tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labiopalatoskizis dan bayi
dengan masalah pemberian makan/ atau asupan makanan tertentu.
2.
Infeksi telinga dikarenakan tidak
berfungsi dengan baik saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan
kerongkongan dan jika tidak segera diatasi maka akan kehilangan pendengaran. Anak
dengan labiopalatoskizis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena
terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang
mengontrol pembukaan dan penutupan tuba eustachius.
- Kesulitan berbicara misalnya suara sengau. Otot-otot untuk berbicara mengalami penurunan fungsi karena adanya celah. Hal ini dapat mengganggu pola berbicara bahkan dapat menghambatnya. Pada bayi dengan labiopalatoskizis biasanya juga memiliki abnormalitas pada perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatu mmole tidak dapat menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum, kemampuan otototot tersebut diatas untuk menutup ruang atau rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi suara atau kata “p, b, d, t,h, k, g, s, sh, and ch”, dan terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat membantu.
4.
Masalah gigi, pada celah bibir gigi
tumbuh tidak normal atau bahkan tidak tumbuh, sehingg perlu perawatan dan
penanganan khusus. Anak yang lahir dengan labioskizis dan labiopalatoskizis
mungkin mempunyai masalah tertentu yang berhubungan dengan kehilangan,
malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari celah bibir yang
terbentuk.

Labioskiziz
H.
Penatalaksanaan
Penanganan
untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini dilakukan setelah
bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat, dan bebas dari infeksi
oral pada saluran napas dan sistemik. Dalam beberapa buku dikatakan juga untuk
melakukan operasi bibir sumbing dilakukan hukum Sepuluh (rules of Ten) yaitu,
Berat badan bayi minimal 10 pon, Kadar Hb 10 g%, dan usianya minimal 10 minggu
dan kadar leukosit minimal 10.000/ui.
Ada tiga tahap
penatalaksanaan labioschisis yaitu :
1.
Tahap sebelum operasi
Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah
ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat
dari keseimbangan berat badan yang dicapai dan usia yang memadai. Patokan yang
biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan lebih dari 10 pounds atau
sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu , jika
bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang
tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya
memberi minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat
memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar
sehingga membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi
menjadi tidak cukup, jika dot dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia
bayi cukup diberi minum dengan bantuan sendok secara perlahan dalam posisi
setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati
langit-langit yang terbelah.
Selain itu
celah pada bibir harus direkatkan dengan menggunakan plester khusus non
alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat
proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi kearah depan (protrusio
pre maxilla) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal ini terjadi
tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika
hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap
direkatkan sampai waktu operasi tiba.
2.
Tahap sewaktu operasi
Tahapan
selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal
kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa
diputuskan oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing ( labioplasty
) adalah usia 3 bulan. Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir
dimulai pada usia 5-6 bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia
tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga kalau
dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang sempurna.
Operasi
untuk langit-langit ( palatoplasty ) optimal pada usia 18 – 20 bulan
mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Palatoplasty
dilakukan sedini mungkin ( 15-24 bulan ) sebelum anak mulai bicara lengkap
sehingga pusat bicara di otak belum membentuk cara bicara. Kalau operasi
dikerjakan terlambat, sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan
suara normal atau tidak sengau sulit dicapai. Operasi yang dilakukan sesudah
usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika
tidak, setelah operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak
sudah terbiasa melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi
memposisikan lidah pada posisi yang salah. Bila gusi juga terbelah ( gnatoschizis ) kelainannya
menjadi labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia
8–9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli ortodonsi.
3.
Tahap
setelah operasi.
Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi,
penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi yang dilakukan,
biasanya dokter bedah yang menangani akan memberikan instruksi pada orang tua
pasien misalnya setelah operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan
terbuka dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk memberikan minum
bayi. Banyaknya penderita bibir sumbing yang datang ketika usia sudah melebihi
batas usia optimal untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan
kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai, fungsi bicara tetap
terganggu seperti sengau dan lafalisasi beberapa huruf tetap tidak sempurna,
tindakan speech teraphy pun tidak banyak bermanfaat.
I.
Perawatan
v
Menyusu ibu
Menyusu
adalah metode pemberian makan terbaik untuk seorang bayi dengan bibir sumbing
tidak menghambat pengisapan susu ibu. Ibu dapat mencoba sedikit menekan
payudara untuk mengeluarkan susu. Dapat juga menggunakan pompa payudara untuk
mengeluarkan susu dan memberikannya kepda bayi dengan menggunakan botol setelah
dioperasi, karena bayi tidak menyusu sampai 6 minggu.
v
Menggunakan alat khusus, seperti :
·
Dot domba (dot yang besar, ujung
halus dengan lubang besar) yaitu suatu dot yang diberi pegangan yang menutupi
sumbing udara bocor disekitar sumbing dan makanan dimuntahkan melalui hidung,
atau hanya dot biasa dengan lubang besar.
·
Dapat juga diberikan dengan
menggunakan botol peras, dengan cara memeras botol, maka susu dapat didorong
jatuh di bagian belakang mulut hingga dapat dihisap bayi.
·
Ortodonsi, yakni pemberian
plat/dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum agar memudahkan
pemberian minum dan sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum dapat
dilakukan tindakan bedah definitif.
·
Posisi mendekati duduk dengan aliran
yang langsung menuju bagian sisi atau belakang lidah bayi, kemudian bayi
ditepuk-tepuk pada punggungnya berkali-kali secara lembut untuk mengeluarkan
udara/bayi disendawakan, dikarenakan bayi dengan sumbing pada bibirnya
cenderung untuk menelan banyak udara. Periksalah bagian bawah hidung dengan
teratur, kadang-kadang luka terbentuk pada bagian pemisah lubang hidung, hal
ini suatu kondisi yang sangat sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Jika
hal ini terjadi arahkan dot ke bagian sisi mulut untuk memberikan kesempatan
pada kulit yang lembut tersebut untuk sembuh.
J.
Pengobatan
Pada bayi dengan bibir sumbing dilakukan bedah elektif
yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Bayi akan
memperoleh operasi untuk memperbaiki kelainan, tetapi waktu yang tepat untuk
operasi tersebut bervariasi.
Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir
berdasarkan kriteria rule often yaitu umur > 10 minggu, BB > 10 pon/5 Kg,
Hb > 10 gr/dl, leukosit > 10.000/ui.
Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup
langitan/palatoplasti dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak
mampu bicara lengkap sehingga tindakan operasi penambahan tulang pada
celah alveolus/maxilla untuk memungkinkan ahli ortodensi mengatur
pertumbuhan gigi dikanan dan kiri celah supaya normal.
Operasi terakhir pada usia 15-17 tahun dikerjakan
setelah pertumbuhan tulang-tulang muka mendeteksi selesai. Operasi mungkin
tidak dapat dilakukan jika anak memiliki “kerusakan horseshoe” yang lebar.
Dalam hal ini, suatu kontur seperti balon bicara ditempel pada bagian belakang
gigi geligi menutupi nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik.
Anak dengan kondisi ini membutuhkan terapi bicara,
karena langit-langit sangat penting untuk pembentukan bicara, perubahan
struktur, juga pada sumbing yang telah diperbaiki, dapat mempengaruhi pola
bicara secara permanen.
v
Prinsip
Perawatan Secara Umum
Pada saat lahir diberikan bantuan pernapasan dan
pernapasan NGT (Naso Gastric Tube) bila perlu untuk membantu masuknya makanan
kedalam lambung. Anak setelah berumur 1 minggu dibuatkan feeding plate untuk
membantu menutup langit-langit dan mengarahkan pertumbuhan, atau dengan
pemberian dot khusus. Setelah anak berusia 3 bulan dilakukan labioplasty atau
tindakan operasi untuk bibir, alanasi (untuk hidung) dan evaluasi telinga. Umur
18 bulan – 2 tahun dilakukan palathoplasty, tindakan operasi langit-langit bila
terdapat sumbing pada langit-langit
K.
Asuhan Kebidanan
1.
Berikan
dukungan emosional dan tenangkan ibu beserta keluarga.
2.
Jelaskan
kepada ibu bahwa sebagian besar hal penting harus dilakukan saat ini adalah
member makanan bayi guna memastikan pertumbuhan yang adekuat sampai pembedahan
yang dilakukan.
3.
Jika
bayi memiliki sumbing tetapi palatumnya utuh, izinkan bayi berupaya
menyusu.
4.
Jika bayi
berhasil menyusu dan tidak terdapat masalah lain yang membutuhkan
hospitalisasi, pulangkan bayi. Tindak lanjuti dalam satu minggu untuk memeriksa
pertumbuhan dan penambahan berat badan.
5.
Jika bayi
tidak dapat menyusu dengan baik karena bibir sumbing,berikan perasan ASI dengan
menggunakan metode pemberian makanan alternatif (menggunakan sendok atau
cangkir).
6.
Jika bayi
memiliki celah palatum, berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian
makan alternatif (menggunakan sendok atau cangkir).
7.
Ketika bayi
makan dengan baik dan mengalami penambahan berat badan,rujuk bayi ke rumah
sakit tersier atau pusat spesialisasi, jika memungkinkan untuk pembedahan guna
memperbaiki celah tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Labioskizis/Labiopalatoskizis yaitu kelainan kotak
palatine (bagian depan serta samping muka serta langit-langit mulut) tidak
menutup dengan sempurna. Merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau
sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa embrional berkembang,
bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing antara lain :
a.
Faktor genetik atau keturunan
b.
Kurang nutrisi contohnya defisiensi
Zn dan B6, vitamin C dan asam folat.
c.
Radiasi
d.
Terjadi trauma pada kehamilan
trimester pertama
e.
Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi
janin contohnya seperti infelsi rubella dan sifillis, toksoplasmosis dan
klamidia
f.
Pengaruh obat teratogenik, termasuk
jamu dan kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas selama kehamilan, misalnya
kecanduan alkohol.
g.
Multifaktorial dan mutasi genetik
h.
Displasia ektodrmal.
Bibir sumbing ada beberapa tingkatan juga istilahnya
berdasarkan organ yang terlibat diantaranya: celah di bibir (labioskizis),
celah di gusi (gnatoskizis), celah di langit (palatoskizis). Celah dapat
terjadi lebih dari satu organ misalnya: terjadi di bibir dan langit-langit
(labiopalatoskizis).
B. Saran
Beberapa kelainan bawaan tidak dapat dicegah, tetapi
ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya
kelainan bawaan:
·
Tidak merokok dan menghindari asap
rokok
·
Menghindari alkohol
·
Menghindari obat terlarang
·
Memakan makanan yang bergizi dan
mengkonsumsi vitamin prenatal
·
Melakukan olah raga dan istirahat
yang cukup
·
Melakukan pemeriksaan prenatal
secara rutin
·
Mengkonsumsi suplemen asam folat
·
Menjalani vaksinasi sebagai
perlindungan terhadap infeksi
·
Menghindari zat-zat yang berbahaya.
boleh minta daftar pustakanya ?
BalasHapus